Senin, 25 Mei 2009

Si “Comel”



“Aduh mana panas banget lagi! Kalo bukan ade gue, ngga bakalan mau deh gue anterin dia.” Gumam Sofia. Sudah terbayang dikepala sofia gimana nanti perjalanan dari rumah, naik metromini, panas-panasan, berdesakan sama orang, bau tidak sedap, dan sampai di mall sudah kucel banget pastinya.
“eh ratu dangdut! Gila yaa lo, dandan lama banget kaya mau pergi ke weddingnya Brad pitt sama Angelina jolie aja!! Cepetan nggak, keburu gue berubah pikiran nih!” saking kesalnya Sofia sama Poppy adiknya sampai-sampai bersumpah serapah dalam hati.
“IYA… IYA… sabar yaa kakak ku tercinta… sebentar lagi nih, kamu rapihin dandanan kamu aja lagi. Biar ngga keliatan norak. Ya ya yaa..” jawab poppy dengan santainya sambil menggores-goreskan pinsil alis dimatanya. “Pale lo norak! Ada juga lo yang norak. Mau ke mall aja ribetnya setengah mati!” Sofia menjawab masih dengan perasaan kesal.
“Yaa aku kan mau audisi kak, harus tampil over dong biar menarik! Hihihi…” Poppy mencibir. “Terserah lo deh…” kepasrahan sudah mulai terlihat di raut wajah Sofia karena sudah lelah berteriak-teriak.
Tidak lama kemudian Poppy keluar dari kamarnya dengan kostum andalannya, yaitu serba nge-PINK! Sofia Cuma bisa menggelengkan kepala karena sudah terbiasa melihat pemandangan ini. Adiknya ini emang paling addict banget sama benda apapun yang warnanya pink. Pernah pada waktu mereka sekeluarga lagi jalan-jalan ke Dufan, Poppy melihat ada anak kecil memakai bando warna pink, dan langsung aja dia merengek ke orang tuanya untuk meminta bando milik anak kecil tersebut. Itu hanya satu dari beberapa kelakuan buruk yang sering dilakukan Poppy. Dan keluarganya memang sudah terbiasa dengan hal tersebut.
“Udah siap nih? Berangkat kitaaaa” tanyan Poppy tanpa perasaan berdosa. ”Dari tadi!!!” jawab Sofia dengan kesal sampai pengen ngejitak Poppy.
Betul saja yang dibayangkan oleh Sofia (panas, penuh, macet), berhubung mobil mereka cuma 1 dan itu juga harus bergulat dulu dengan ayah mereka jika ingin menggunakan mobil. Akhirnya adik kakak ini memutuskan untuk naik metromini.
”Kenapa ngga naik taksi aja sih? Lo ngga liat apa udah kaya di neraka begini” “Kalo naik taksi mahal banget sayaaang, jalan daerah mall situ kan macet, nanti argonya bengkak. Mending buat belanja nanti hihihi” sambil pencat-pencet hp nya yang ngga bisa dipisahkan.
Di perjalanan dalam metromini Sofia cuma bisa menggerutu kesal, mukanya mulai memerah karena kepanasan di tambah perasaan kesal karena harus mengantar adiknya pergi audisi siang hari seperti ini. Perjalanan dari rumah mereka ke mall biasanya hanya memakan waktu 15 menit jika tidak macet. Namun karena siang hari perjalanan bisa memakan waktu sampai 1 jam karena macet.
”Dangdut, beli minum dong! Panas banget nih” Ujar Sofia meminta dibelikan minuman. “Ihh kamu mah, papa bilang kan jangan jajan sembarangan tau. Bisa sakit perut loh hihihi” Sergah Poppy dengan wajah pura-pura lugu.
”Lo pilih gue mati gara-gara kehausan di metromini apa beliin gue minum?” masa bodoh dengan sakit perut seperti wejangan ayahnya pikir Sofia. “Yaudah yaudah.. aku beliin. Tapi kalo sakit perut ngga tanggung jawabnya”.
“Bang!!! Sini!!! beli minuman rasa jeruk satu” Poppy teriak dengan kencangnya di jendela bis sampai-sampai semua orang yang didalam bis memperhatikan mereka berdua. “Eh dangdut, berisik ya lo… ngga bisa pelan-pelan aja apa?” bisik Sofia.
Sriuuup.. Sriuuup.. Sriuuuuuuuup.. hanya dengan tiga kali sedotan minuman tersebut langsung masuk ke tenggorokan Sofia yang minum layaknya seorang preman. Setengah jam sudah mereka di perjalanan dan sampai juga di tempat tujuan.
“Gading.. Pala.. Gading.. Pala.. kosong.. kosong!!” teriak kondektur metromini. “Huh sampe juga akhirnyaaaa hihihi, ke WC dulu yaa sayang” sambil merapihkan rambutnya yang berantakan karena naik metromini tadi. “Iya… gue juga pengen pipis dari tadi”.
Tidak lama kemudian mereka menuju tempat audisi yang terletak di Lantai dasar mall tersebut. “Huaaaaaaaaaa panjang banget antriannya!!! Kaya mau berobat sama Ponari aja nih orang-orang” Poppy kaget melihat suasana audisi yang sangat ramai oleh orang-orang dari segala penjuru Jakarta. Padahal waktu audisi dimulai pukul 15.00 tapi orang-orang sudah memenuhi antrian untuk mendaftarkan dirinya.
“Kakak ku sayang, ayo anterin aku daftar ke tempat registrasi dong. Nanti keburu lebih rame lagi..” minta Poppy. “Idih, males banget gue nemenin lo ngantri gitu? Mending gue keliling-keliling deh”. Walaupun masih lelah setelah perjalanan panjang yang memakan waktu dan tenaga, tapi Sofia lebih memeilih untuk berkeliling mall dari pada menemani adiknya mengantri.
“Ya ampun Sofiiiii… tega banget sih kamu, masa aku ngantri sendirian. Nanti aku di culik loh! Ngga mau kan kalo aku diculik? Hihihi..”
“hhhhhhhhh nih anak ya!! Nyusahin aja bisanya. Yaudah..” Dari kesal sampai pasrah kembali wajah Sofia menghadapi adiknya tersebut.
Kemudian mereka berdua pun ikut masuk kedalam antrian. Walaupun kesal, Sofia tidak dapat menyembunyikan rasa lelahnya. “Pop.. gue duduk dulu ya bentar. Kaki gue pegel-pegel banget, skalian mau beli minum. Nitip ngga?” kali ini Sofia bicara tanpa nada kesal seperti sebelum-sebelumnya, karena memang sudah lelah teramat sangat.
“Oh yaudah-yaudah, kamu cape banget kliatannya.. biar aku tunggu disini aja. Aku nitip soft drink aja kak! Kamu hati-hati ya” Sofia pun meninggalkan Poppy sendirian di tengah keramaian audisi. Dan tampaknya Sofia juga tidak bakal terburu-buru kembali ketempat antrian sebab nomer antrian Poppy yang ke 531. Masih lama sekali nampaknya.
Poppy hanya bisa melihat kiri-kanan sambil terus menerus membenahi rambutnya yang sudah sangat rapih dan tidak lupa pasti hp andalannya selalu menjadi teman terbaik Poppy. Apalagi di saat-saat yang membosankan seperti ini.
Setengah jam berlalu dan belum ada tanda-tanda kedatangan Sofia. Poppy pun mulai cemas.Poppy pun memutuskan untuk menelpon Sofia untuk menanyakan keberadaan kakak tercintanya itu
“Sayang… kamu dimana? Udah setengah jam ngga balik-balik. Aku udah haus banget tau!”. Langsung menyerocos ketika telpon baru di angkat Sofia. “Hehehe sori sorii gue lagi di toko sepatu bentar. Nanti gue langsung kesana”.
“Ihhh katanya mau istirahat? Ngga taunya malah jalan-jalan. Cepetan kesini!” Poppy langsung mematikan hpnya karena kesal.
Tidak lama setelah itu, ada seseorang pria cukup tampan datang menghampiri Poppy. Umurnya kira-kira lebih tua 5 tahun darinya dan tampaknya pria yang cukup sukses dan mapan, terlihat dari busana yang ia kenakan. Setelan kemeja garis-garis yang ketat sampai membentuk tubuhnya yang sangat atletis itu dan celana jeans berwarna hitan yang disesuaikan dengan sepatu pantopelnya.
Lantas ia berkata, “Kamu sangat comel.” Dan meninggalkan senyum sedikit kemudian langsung pergi. Poppy serasa ditumpahi dengan berjuta-juta galon air panas. Wajahnya memerah dan meledak-ledak.
Dalam hatinya Poppy serasa ingin menangis dan teriak sekencang-kencangnya. Kenapa ada orang, yang ia tidak kenal dan tidak pernah bertemu sekali pun Tiba-tiba berkata seperti itu. Rasa haus, lelah hilang semuanya berganti dengan amarah yang teramat sangat.
Tanpa sadar, Poppy pun langsung mengejar pria tersebut yang jalan belum jauh dari tempatnya mengantri. Dan kemudian ditamparnya pria tersebut dengan sangat kencang. Sontak, semua orang yang disekitarnya langsung melihat kearah mereka berdua.
Pria tersebut bingung dan menjelaskan menggunakan bahasa Melayu Malasyia. Poppy pun semakin bingung. Sampai akhirnya ada seorang satpam yang menghampiri dan menjelaskan ke Poppy. Setelah ditelusuri, ternyata comel dalam bahasa Malasyia artinya cantik.
Wajah Poppy membeku, tak dapat berkata apa-apa. Kali ini wajahnya memerah bukan karena marah, melainkan malu yang tidak dapat disembunyikan lagi. Dan ditambah perasaan bersalah karena menampar pria tersebut.
“Aduh! Maaf banget ya maaaaaaaf banget. Aku ngga tau kalo kamu bilang aku cantik. Aku ngga ngerti bahasa Melayu soalnya. Maaf banget yah.”
Rasa malu Poppy ditambah karena orang-orang disekitarnya baru mengetahui ada apa sebenarnya dan mentertawainya. Sontak, Poppy pun langsung pergi dari tempat itu dengan wajah tertunduk malu. Diambilnya hp dari tasnya dan langsung menelepon Sofia.
“Kak! Dimana? Aku tunggu di pintu utama ya.”
“Lah.. lo kenapa? Audisinya udah selesai?” Tanya Sofia dengan perasaan bingung. Sebab dia melihat ke tempat antrian dan masih banyak orang-orang disana. “Udah deh.. cepetan kesini. Aku mau pulang!”
Sesampainya dirumah, diceritakanlah kejadian tersebut kepada seluruh keluarganya. Dan mereka hanya tertawa terbahak-bahak. Poppy hanya tersenyum malu-malu. “kamu gimana sih mba?” Ayah meledeknya.
“Ahhh ayah… udah dong. Bukan salah aku kan, aku mana ngerti bahasa Melayu. Orang ayah ngga ngajarin aku hihihi..” Senyumnya.
Dan semuanya tertawa kembali…