Kamis, 11 Juni 2009

TUGAS PENASKAHAN PERS

SLUG : KRISIS PANGAN MENGANCAM DUNIA

TYPE : Package (PKG)

REP / CAM : Hafidz Dwi Fahmi / Renault Chaniago

ON AIR : 11/06/ 09

VISUAL

NARASI

Presenter in Vision

Lead in :

Saat ini, dunia terancam krisis pangan. Ancaman sebenarnya telah dikomunikasikan sejak tahun 2006.

Roll Package + Suara Narator

(Muncul gambar berbagai aktivitas yang dilakukan masyarakat pasar sebagian daerah )

Selama enam tahun berturut-turut, konsumsi biji-bijian pangan dunia lebih besar dari pada produksi dunia. Bahkan, pada tahun 1999 stok pangan dunia masih dapat memenuhi kebutuhan pangan selama 116 hari. Akan tetapi, pada tahun 2006 hanya tinggal 57 hari. Semua ini tidak lepas dari kebijakan organisasi-organisasi dunia yang terus mendorong liberalisme perdagangan. Negara-negara berkembang yang sebagian besar ada di Asia dan Afrika, justru terperangkap dengan kebijakan meliberalisasikan sektor pangan.

Roll Package + Suara Narator

(Muncul gambar keadaan masyarakat Indonesia yang kemudian gambar keadaan masyarakat negara-negara di dunia)

Krisis pangan kini mengancam hampir di seluruh pelosok dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Penyebabnya tidak lain adalah kenaikan harga produk pangan yang sulit terbendung sejak dua tahun lalu dan terus berlanjut hingga kini. Dampak krisis yang paling terasa akan dialami oleh negara-negara di dunia ketiga karena kemampuan produk pangan mereka yang sangat terbatas.

Gambar animasi berisi grafik

“Indeks harga pangan dunia dari tahun ke tahun”

+ Suara Narator

Laporan Food and Agriculture Organizaion (FAO) menunjukkan indeks harga pangan meningkat rata-rata 9% pada tahun 2006 dibanding tahun sebelumnya yaitu tahun 2005. Tahun 2007 indeks harga pangan naik menjadi 23% dibanding tahun 2006. Dalam Food Outlook hingga tahun 2017, diramalkan oleh FAO, harga pangan akan terus meroket sejalan dengan lonjakan harga minyak mentah. Lonjakan tersebut dipicu oleh kenaikan harga minyak makan sebesar 50%. Data memperlihatkan bagaimana harga CPO minyak mentah kelapa sawit di pasar internasional sudah menembus harga US$ 1.200/ton. Apalagi kini penggunaan produk CPO bukan lagi sekedar untuk minyak makan saja, tapi menjadi bahan baku biodiesel sehingga permintaan semakin besar. Komoditi serelia naik rata-rata 42%. Contohnya harga jagung kini mencapai US$ 500/ton dan cenderung bertambah naik sejak Desember 2007. Jika dibandingkan dari tahun ke tahun antar Januari 2007 dan Januari 2008, maka kenaikan harga jagung sudah lebih dari 26%.

Roll Package + Suara Narator

(Muncul gambar daerah perkebunan jagung dan kedelai di Amerika Serikat)

Harga komoditi jagung pun diprediksi akan terus bergerak naik menyusul penggunaan biofuel. Hal yang sama terjadi pada komoditi kedelai. Amerika Serikat sebagai salah satu produsen terbesar di dunia, mengurangi lahan kedelai karena dialihkan ke tanaman jagung sebagai bahan biofuel. Akibatnya, harga kedelai di pasaran dunia menembus US$ 1.250/ton. Di lain sisi, permintaan terhadap komoditi tersebut tetap tinggi untuk makanan ternak dan makanan manusia.

Suara Narator

(Muncul gambar animasi grafik kenaikan harga beras)

Setelah beberapa komoditi pangan naik, kini menyusul beras. Harga komoditi yang menjadi makanan pokok bangsa Indonesia ini, di pasaran internasional naik 50%. Contohnya harga beras Thailand Broken 10%, tahun lalu masih US$ 326/ton. Namun, pada bulan Maret 2008 sudah mencapai US$ 543/ton. Harga beras Vietnam Broken 25% juga melonjak sangat tinggi. Tahun lalu masih US$ 281/ton, sekarang harganya sudah diatas US$ 500/ton.

Suara Narator

(Kembali muncul gambar animasi grafik komoditi gandum dari tahun ke tahun)

Komoditi gandum pada periode 2007 - 2008 diperkirakan produksinya hanya 604 juta ton, ditambah stok periode sebelumnya sebanyak 125 juta ton. Total pasokan menjadi sekitar 729 juta ton. Ini berarti total kebutuhan gandum di seluruh dunia sebanyak 619 juta ton. Stok akhir di pasaran internasional hanya tinggal 110 juta ton. Posisi tersebut merupakan terendah sejak tahun 1982. Pada tahun 2006 - 2007, stok akhir gandum mencapai 125 juta ton dan pada tahun 2005 - 2006 sekitar 148 juta ton. Keadaan seperti ini menyebabkan harga komoditi gandum meroket menembus angka US$ 320/ton. Padahal, pada periode 2006 - 2007 harga gandum hanya sekitar US$ 200/ton.

Suara Narator

(Muncul gambar animasi grafik indeks harga gula dan tingkat konsumsi gula di dunia)

Dalam laporan FAO, satu-satunya produk pangan yang turun hanyalah gula. Yakni turun 32%. Hal ini dikarenakan produksi gula di negara-negara berkembang termasuk Indonesia mengalami peningkatan, sedangkan konsumsi gula relatif stabil. Bahkan, selama periode 2007 - 2008 diperkirakan produksi gula mencapai titik tertinggi.

Roll Package Live on Tape

(Muncul gambar suasana wawancara dengan Conception Calpe dan Jacques Diouf di gedung FAO)

“Krisis pangan dipicu karena permintaan melebihi pasokan, sehingga harga-harga bahan pangan melambung,” kata ekonom senior FAO, Conception Calpe.

Dirjen FAO, Jacques Diouf pun berpendapat, “Saya memprediksi, harga beberapa bahan pangan tidak akan pernah turun. Sebab, salah satu bahan pangan yaitu jagung, kini tidak lagi digunakan untuk makan saja, akan tetapi untuk bahan bakar rumah tangga lingkungan (biofuel). Akibatnya, stok global berkurang dan di pasar terjadi spekulasi.” “Secara naluri, orang tak akan diam kalau kelaparan. Mereka pasti bertindak,” tambah Jacques Diouf.

Roll Package + Suara Narator

(Muncul gambar negara-negara yang dilanda krisis pangan, salah satunya Indonesia. Gambar menunjukkan keadaan masyarakat-masyarakat miskin)

Berdasarkan catatan FAO, sebanyak 37 negara menghadapi krisis pangan, termasuk Indonesia. Kebanyakan diantaranya adalah negara-negara miskin di belahan benua hitam, Afrika. Kondisi ini, menurut Diouf jelas dapat memicu kerusuhan sosial. Warga di negara-negara miskin tidaklah seberuntung di negara-negara kaya yang masih mampu membeli bahan pangan, karena hanya mengeluarkan 10%-20% penghasilannya. Lain halnya dengan warga negara di negara-negara miskin atau negara berkembang, mereka harus mengeluarkan kocek sebesar 50%-60% dari penghasilan mereka hanya untuk membeli pangan.

Roll Package Live on Tape

(Muncul gambar suasana wawancara dengan Ning Pribadi, kepala pusat distribusi pangan badan ketahanan pangan, Depertemen Pertanian. Di Departemen Pertanian)

“Akibat persaingan penggunaan produk pertanian untuk pangan dan energi, Indonesia juga terkena dampak dari krisis pangan. Padahal produksi pangan kita cukup, jika hanya untuk konsumsi,” kata Ning Pribadi.

Suara Narator

Selain peringatan FAO, badan dunia lainnya seperti IMF (International Monetery Fund) menjadi lembaga global yang juga memperingatkan dampak buruk dari naiknya harga pangan bagi warga miskin.

Roll Package Live on Tape

(Muncul gambar wawancara dengan Direktur IMF, Dominique Strauss Kahn)

“Banyak orang mengalami kelaparan yang kemudian bisa memicu kerusuhan sosial. Selama tahun lalu menurutnya, harga hasil panen yaitu beras, gandum dan jagung melonjak tinggi. Beras misalnya, naik 70%. Alasannya jelas, panen yang jelek karena tanah semakin turun dan berkurang kesuburannya. Cuaca pun tidak mendukung, serta tidak karuan mengakibatkan permintaan dan bertambahnya jumlah lahan untuk bahan bakar nabati,” kata Dominique Strauss Kahn. “Harga yang lebih tinggi menyebabkan kesulitan bagi orang banyak dan menjerumuskan mereka untuk pertama kalinya kebawah garis kemiskinan,” tambahnya.

Suara Narator

Komite penghapus utang negara-negara dunia ketiga, justru menilai kebijakan Imperialistik Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank) sebagai biang utama krisis pangan di negara-negara miskin. Komite itu menegaskan, IMF dan World Bank sejak 20 tahun lalu memaksa negara-negara selatan menerapkan kebijakan yang dibuat kedua lembaga dunia itu. Sehingga menyebabkan kerugian besar di negara-negara tersebut. Kenaikan harga pangan menjadi ancaman krisis pangan yang kini melanda di berbagai negara dunia tidak lepas dari pengaruh perubahan kebijakan di pasar global yang dibuat lembaga dunia tersebut, salah satunya adalah konversi produk pangan ke energi yang membuat harga pangan di pasar internasional terkerek naik. Komite ini menambahkan, kini rakyat di negara-negara selatan salah satunya Indonesia, terpaksa harus membayar mahal program IMF dan Bank Dunia. Semestinya dua lembaga dunia itu yang menanggung dosa dan kesalahan tak terampuni itu.